Bagaimana Cara Menangani Keracunan Makanan

keracunan-.jpg
16/Okt/2019

Keracunan makanan merupakan gangguan yang disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi oleh bakteri, virus, parasit, atau toksin. Organisme atau toksin yang menginfeksi atau mengkontaminasi makanan dapat terjadi pada setiap proses pengolahan makanan. Kontaminasi makanan juga dapat terjadi di rumah ketika makanan salah ditangani atau dimasak. Gejala keracunan makanan dapat terjadi saat sedang mengkonsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Umumnya keracunan makanan dimulai dari kategori ringan hingga berat. Pada kategori ringan, keracunan makanan dapat sembuh tanpa pengobatan. Namun, pada beberapa kasus yang berat membutuhkan terapi pengobatan di rumah sakit.

Bagaimana tanda dan gejala keracunan makanan?
Gejala keracunan makanan bervariasi tergantung pada penyebabnya. Umumnya keracunan makanan menyebabkan satu atau lebih tanda dan gejala, seperti:

Mual
Muntah
Diare berair hingga berdarah
Nyeri perut dan kram
Demam
Tanda dan gejala umumnya mulai dirasakan beberapa jam setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi atau mungkin reaksi keracunan dapat terjadi setelah berhari-hari. Lama terjadinya tanda dan gejala keracunan dapat terjadi selama beberapa jam hingga beberapa hari.

Apakah penyebab terjadinya keracunan makanan?
Kontaminasi makanan dapat terjadi mulai dari tahap awal seperti ketika buah masih mulai tumbuh, dipetik, pengolahan, penyimpanan, pengiriman, atau persiapan ketika akan dikonsumsi. Kontaminasi silang umumnya yang sering terjadi terutama ketika menyiapkan makanan mentah seperti salad. Makanan yang tidak dimasak atau yang tidak dimasak dengan tepat dapat menyebabkan keracunan makanan karena organisme berbahaya tidak mati sebelum dikonsumsi.
Penyebab terjadinya keracunan makanan atau organisme yang mengkontaminasi makanan adalah :

Bakteri
Bakteri merupakan penyebab paling umum terjaidnya keracunan makanan. Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan adalah E.coli, Listeria, dan Salmonella.
Parasit
Keracunan makanan yang disebabkan oleh parasit menimbulkan tanda dan gejala yang berbeda dengan kontaminasi bakteri. Toksoplasma adalah parasit yang paling sering terjadi pada keracunan makanan. Toksoplasma umumnya ditemukan pada kotoran kucing. Parasit dapat hidup pada sistem pencernaan tanpa menunjukkan tanda dan gejala. Namun, orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah dan wanita hamil dapat beresiko mengalami efek samping yang serius jika parasit hidup pada usus.
Virus
Keracunan makanan juga dapat disebabkan oleh virus. Salah satu kontaminasi virus pada makanan yang serius adalah virus hepatitis A.
Apakah yang dapat meningkatkan resiko terjadinya keracunan makanan?
Resiko keracunan makanan dapat terjadi tergantung pada organisme yang terdapat pada makanan, jumlah organisme pada makanan, usia, dan kondisi kesehatan seseorang. Berikut beberapa kelompok orang yang memiliki resiko keracunan makanan lebih tinggi:

Orang lanjut usia (lansia)
Seiring dengan bertambahnya usia maka sistem kekebalan tubuh tidak merespon dengan cepat dan efektif untuk membunuh organisme yang masuk kedalam tubuh.
Wanita yang sedang hamil
Selama kehamilan, perubahan metabolisme dan sirkulasi tubuh dapat meningkatkan resiko keracunan makanan. Reaksi yang terjadi dapat lebih parah selama kehamilan.
Bayi dan balita
Sistem kekebalan tubuh pada bayi dan balita belum dapat berkembang sepenuhnya.
Orang dengan penyakit kronis
Terjadi penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh pada orang yang memiliki kondisi penyakit kronis seperti diabetes, gangguan hati atau AIDS, atau sedang melakukan kemoterapi.
Bagaimana penanganan keracunan makanan?
Pengobatan untuk keracunan makanan umumnya tergantung pada sumber penyakit dan tingkat keparahan gejala. Pada umumnya, tanda dan gejala keracunan makanan dapat sembuh tanpa pengobatan dalam beberapa hari, namun juga pada beberapa kasus keracunan dapat terjadi lebih lama. Penanganan keracunan makanan yang dapat dilakukan adalah:

Terapi untuk penggantian cairan yang hilang
Cairan dan elektrolit seperti natrium, kalium, dan kalsium yang menjaga keseimbangan cairan tubuh dapat hilang saat terjadinya diare atau muntah. Pada kondisi yang diare dan muntah yang parah perlu dilakukan perawatan dirumah sakit untuk mendapatkan asupan cairan dan elektrolit melalui pembuluh darah untuk mencegah atau mengatasi dehidrasi. Pada kondisi diare yang dapat dilakukan perawatan dirumah maka dapat mengkonsumsi cairan oralit untuk mencegah atau mengatasi dehidrasi.
Terapi antibiotik
Berkonsultasilah pada dokter untuk mendapatkan terapi antibiotik jika keracunan makanan yang terjadi disebabkan oleh kontaminasi bakteri pada makanan. Antibiotik tidak dapat membantu mengatasi keracunan makanan yang disebabkan oleh virus.
Terapi untuk membantu menghentikan diare atau muntah
Berkonsultasilah dengan dokter atau apoteker untuk pemilihan obat yang mengatasi diare dan muntah.


16/Okt/2019

Tahukah anda penyebab telinga berdengung saat dipesawat adalah karena tekanan yang tidak seimbang antara telinga tengah dan tekanan udara lingkungan sehingga mencegah gendang telinga bergetar.

Pernahkah  telinga merasa berdengung ketika naik pesawat? Mengapa telinga bisa berdengung saat pesawat akan naik atau turun?
Telinga berdengung karena tekanan udara di lingkungan tidak seimbang sehingga terjadi tekanan pada gendang telinga dan jaringan telinga bagian tengah lainnya. Telinga yang berdengung dapat terjadi pada awal penerbangan saat pesawat sedang naik atau pada akhir penerbangan saat pesawat turun. Perubahan ketinggian yang cepat menyebabkan tekanan udara berubah dan bisa memicu telinga berdengung.
Teling berdengung juga disebut dengan istilah telinga barotrauma, media barotritis atau media aerotitis. Umumnya langkah-langkah yang dilakukan untuk mengurangi atau mengatasi dengungan seperti menguap, menelan, mengunyah permen karet. Usaha tersebut dapat mencegah atau memperbaiki perbedaan tekanan udara dan memperbaiki dengungan pada telinga.

Bagaimana tanda dan gejala terjadinya dengung pada telinga?
Gangguan telinga saat berada didalam pesawat dapat terjadi pada salah satu atau kedua telinga. Tanda dan gejala terjadinya gangguan pada telinga meliputi:

Timbul rasa tidak nyaman atau sakit pada telinga
Telinga terasa seperti penuh
Terjadi gangguan pendengaran ringan sampai sedang
Gangguan telinga yang parah karena perbedaan tekanan dapat menimbulkan gejala:

Nyeri yang parah
Gangguan pendengaran sedang hingga berat
Terjadi dering pada telinga (tinnitus)
Terjadi sensasi seperti pusing berputar (vertigo)
Muntah akibat vertigo
Terjadi pendarahan pada telinga
Apakah penyebab terjadinya dengung telinga saat di pesawat?
Dengung pada telinga terjadi karena tekanan yang tidak seimbang antara telinga tengah dan tekanan udara lingkungan untuk mencegah gendang telinga bergetar. Bagian telinga yang mengatur tekanan udara adalah tabung eustachius. Tabung eustachius memiliki salah satu ujung yang terhubung ke telinga tengah dan ujung yang lain memiliki lubang kecil dimana bagian belakang rongga hidung dan bagian atas tenggorokan bertemu.
Ketika sebuah pesawat naik atau turun, tekanan udara dilingkungan berubah dengan cepat dan tabung eustachius sering tidak bereaksi cukup cepat. Menelan atau menguap dapat mengaktifkan otot yang membuka tabung eustachius dan memungkinkan telinga tengah untuk mengisi kembali suplai udara sehingga dapat menghilangkan gejala gangguan telinga didalam pesawat.

Apakah faktor yang meningkatkan resiko terjadinya gangguan telinga ketika didalam pesawat?
Setiap  kondisi yang menghalangi tabung eustachius atau membatasi fungsinya dapat meningkatkan resiko tejadinya gangguan pada telinga. Faktor resiko yang umumnya meningkatkan terjadinya kondisi tersebut adalah:

Memiliki tabung esutachius dengan ukuran kecil terutama pada bayi dan balita
Sedang terinfeksi influenza
Mengalami infeksi sinus
Mengalami rhinitis
Mengalami infeksi telinga tengah
Tidur di pesawat ketika sedang lepas landas atau mendarat
Bagaimana cara mengatasi gangguan telinga saat dipesawat?
Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meredakan gangguan telinga ketika berada dipesawat:

Menelan
Ketika menelan sering terdengar bunyi klik atau ada bunyi yang mungkin didengar merupakan gelembung udara kecil yang  telah bergerak dari belakang hidung ke telinga tengah melalui tabung eustachius. Tabung eustachius yang memastikan bahwa udara ditelinga tengah terus diisi udara.
Mengunyah permen karet atau menghisap permen
Mengunyah permen atau mengisap permen dapat membantu menyamakan tekanan udara. Pada bayi, tabung eustachian memiliki ukuran yang jauh lebih sempit daripada orang dewasa sehingga perubahan tekanan udara pada bayi menjadi lebih menyiksa. Kondisi tersebut dapat diatasi dengan memberikan susu atau permen pada anak sehingga merekka melakukan aktifitas menelan. Berkonsultasilah dengan dokter untuk membantu memberikan obat pereda rasa sakit agar dapat digunakan salam penerbangan.
Manuver valsava
Langkah ini dapat dilakukan dengan menutup mulut dan mencubit hidung. Perlahan paksa udara untuk sampai ke telinga sehingga muncul bunyi “pop”. Langkah ini tidak disarankan pada orang yang sedang demam atau alergi karena dapat menyebabkan infeksi telinga yang parah.
Beberapa hal yang perlu diketahui untuk dapat mencegah terjadinya gangguan saat penerbangan:

Usahakan untuk tidak tidur ketika pesawat lepas landas dan mendarat.
Menjaga keseimbangan cairan selama penerbangan dengan mengkonsumsi banyak cairan
Menggunakan sumbat telinga yang ditujukan selama penerbangan
Menggunakan semprotan hidung 1 jam sebelum mendarat dan sesuai dengan kebutuhan. Terlalu sering menggunakan semprotan hidung dapat menyebabkan hidung tersumbat.
Mengkonsumsi dekongestan 1 jam sebelum lepas landas dan setelah penerbangan hingga telinga kembali normal.
Sebisa mungkin menghindari perjalanan dengan menggunakan pesawat ketika sedang sakit flu, alergi, atau hidung buntu. Berkonsultasilah dengan dokter agar mendapatkan obat untuk membantu mencegah atau mengatasi gangguan pendengaran.


16/Okt/2019

Salam Sehat,

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan salah satu aspek penting bagi kesehatan anak. Perawakan pendek atau stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang sebagian besar disebabkan oleh masalah nutrisi. Orang tua  merupakan pihak yang sangat berperan dalam menentukan status nutrisi anak sehingga sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui seputar perawakan pendek pada anak.

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hal yang seharusnya selalu dipantau pada setiap kunjungan ke dokter. Pemantauan pertumbuhan anak biasanya dilakukan dengan memplot berat badan dan tinggi badan ke dalam suatu kurva pertumbuhan. Seorang anak dikatakan pendek  jika tinggi badan atau panjang badan menurut usia lebih dari dua standar deviasi di bawah median kurve standar pertumbuhan anak WHO.

Perawakan pendek disebabkan oleh faktor lingkungan dan genetik. Lingkungan merupakan aspek penting yang masih dapat diintervensi sehingga perawakan pendek dapat diatasi. Faktor lingkungan yang berperan dalam menyebabkan perawakan pendek antara lain status gizi ibu, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi pada anak. Selain disebabkan oleh lingkungan, perawakan pendek juga dapat disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal. Akan tetapi, sebagian besar perawakan pendek disebabkan oleh malnutrisi.

Awal kehamilan sampai anak berusia dua tahun (periode 1000 Hari Pertama Kehidupan) merupakan periode kritis terjadinya gangguan pertumbuhan, termasuk perawakan pendek. Pada periode seribu hari pertama kehidupan ini, sangat penting untuk dilakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan secara berkala dan tentu saja pemenuhan kebutuhan dasar anak yaitu nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi.

Apa yang dapat dilakukan orang tua untuk mengantisipasi perawakan pendek pada anak?​

  1. Upaya tindakan antisipasi perawakan pendek sebaiknya dimulai dari masa kehamilan. Bagi ibu hamil, upaya yang dapat dilakukan yaitu melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur, menghindari asap rokok dan memenuhi nutrisi yang baik selama masa kehamilan antara lain dengan menu sehat seimbang, asupan zat besi, asam folat, yodium yang cukup.
  2. Melakukan kunjungan secara teratur ke dokter atau pusat pelayanan kesehatan lainnya untuk  memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu   :
    • setiap bulan ketika anak anda berusia 0 sampai 12 bulan
    • setiap 3 bulan ketika anak anda berusia 1 sampai 3 tahun
    • setiap 6 bulan ketika anak anda berusia 3 sampai 6 tahun
    • setiap tahun ketika anak anda berusia 6 sampai 18 tahun
  3.  Memberikan ASI eksklusif sampai anak anda berusia 6 bulan dan pemberian MPASI yang memadai
  4.  Mengikuti program imunisasi terutama imunisasi dasar.

Sekain artikel ini, semoga bermanfaat untuk semua terutama anak-anak Indonesia.